Search

MENCERMATI METODE DAN TEKNIK DALAM “KEBERAGAMAN KETAKRIFAN DAN KEKHASAN DALAM PENGGUNAAN ARTIKEL BAHASA INGGRIS a DAN the OLEH MAHASISWA INDONESIA”

  1. Identitas Tulisan

“Keberagaman Ketakrifan dan Kekhasan dalam Penggunaan Artikel Bahasa Inggris a dan the oleh Mahasiswa Indonesia”

Karya Bahren Umar Siregar dan Yasin Nasanius dalam

Peneroka Hakikat Bahasa (halaman 38-48)

Berbicara tentang metode, menarik jika menilik perkataan Kridalaksana dalam Kesuma (2007) bahwa inti fungsi metode dalam penelitian adalah “mempertanggungjawabkan penelitian”. Kesuma sendiri mengemukakan bahwa ilmu bahasa berobjekkan bahasa dan penjelasannya juga menggunakan bahasa, si peneliti perlu berhati-hati dalam memilih dan menggunakan metode penelitian. Sifat berhati-hati perlu dilakukan karena alat penguji atau penentu terhadap fakta kebahasaan yang diporakkan dapat di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang diteliti dan dapat pula di dalam dan merupakan bagian dari bahasa yang diteliti. Kehati-hatian perlu pula dilakukan karena dimungkinkan akan mengakibatkan kekaburan penjelasan atau bahkan kegagalan dalam memberikan penjelasan bila terdapat kesalahan dalam memilih dan menerapkan metode penelitian.

Sebelum penulis membahas tentang metode dan teknik yang digunakan oleh Bahren Umar Siregar dan Yasin Nasanius dalam “Keberagaman Ketakrifan dan Kekhasan dalam Penggunaan Artikel Bahasa Inggris a dan the oleh Mahasiswa Indonesia”, penulis akan menyarikan tulisan mereka terlebih dahulu. Hal ini perlu guna menangkap pemahaman menyeluruh terhadap tulisan kedua peneliti tersebut.

1.1 Latar Belakang

1)      Dari segi analisis kesilapan, di antara penjelasan yang diberikan terhadap kasus ini adalah pelajar cenderung silap menggunakan artikel takrif the dalam konteks tak-takrif dan sebaliknya menggunakan artikel tak-takrif a dalam konteks takrif.

2)      Penelitian dilakukan karena sejauh ini pembahasan pemerolehan artikel a dan the dalam konteks pelajar Indonesia relatif belum menyentuh dimensi semantik (pragmatik) kekhasan (specifity) artikel itu.

1.2 Permasalahan

1)      Peran ciri [+takrif] dalam pemerolehan artikel bahasa Inggris oleh mahasiswa Indonesia.

2)      Peran ciri [+khas] dalam pemerolehan artikel bahasa Inggris oleh mahasiswa Indonesia.

3)      Penyandian masing-masing ciri [+takrif] dan ciri [+khas] dalam pemerolehan artikel bahasa Inggris oleh mahasiswa Indonesia.

1.3 Manfaat

Secara teoretis, hasil penelitian ini akan memberikan manfaat dalam penerapan teori linguistik murni dan linguistik terapan. Topik tentang artikel dari segi ketakrifan dan kekhasan merupakan persinggungan teori gramatika, semantik, dan pragmatik. Sementara itu, aspek pelajaran atau pemerolahan artikel bahasa Inggris termasuk ke dalam bidang kajian linguistik terapan. Namun, aspek yang kedua tidak dibahas dalam tulisan.

Secara praktis, hasil penelitian ini akan memberikan masukan informatif tentang pelajaran artikel bahasa Inggris sehingga suatu strategi pembelajaran yang lebih efektif dapat dirancang dengan menggunakan informasi ini.

1.4 Tinjauan Pustaka

1)      Penelitian Ionin et al (2004) dengan subjek penelitian pelajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua yang berbahasa pertama bahasa Korea dan bahasa Rusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun tata bahasa semesta memberikan seperangkat pengetahuan tentang ciri-ciri yang mungkin terdapat dalam artikel, pelajar tidak mengetahui ciri yang mana yang sesuai untuk artikel bahasa Inggris.

2)      Huebner (1983); Master (1987); Parrish (1987); Thomas (1989); Young (1996); Murphy (1997); Robertson (2000); dan Leung (2001) menemukan dua jenis kesilapan dalam penggunakan artikel bahasa Inggris, yaitu pelepasan artikel dan penambahan artikel. Dalam kasus penambahan artikel ditemukan bahwa pelajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua menggunakan secara berlebihan artikel takrif the dalam konteks yang memerlukan penggunaan artikel taktakrif a.

3)      Abott (2005) mendefinisikan ketakrifan dan ketaktakrifan dari segi keunikan dan familiaritas.

4)      Heim (1982, 1983) berpendapat bahwa ketakrifan dan ketaktakrifan bersifat referensial.

5)      Rijkhoff dan Seibt (2005) berpandangan bahwa kekhasan memainkan peranan penting antara lain untuk menjelaskan hubungan antara semantik irealis dan ketaktakrifan.

1.5 Metode dan Teknik

1.5.1 Strategi Penelitian : Studi Kasus

1.5.2 Subjek Penelitian :

Mahasiswa Jurusan Bahasa/Sastra Inggris atau Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris tingkat akhir sebanyak 68 orang dari FKIP Unika Atma Jaya, STBA LIA, dan Fakultas Sastra Universitas Nasional, Jakarta.

1.5.3 Metode : Deskriptif Analisis

1.5.4 Penyediaan Data

1)      Teknik elitasi, dalam bentuk tes pilihan berganda, yang disusun ke dalam 5 kelompok pertanyaan, seperti IA [+definite, +specific] definite, wide scope, speaker knowledge, IB [+definite, -specific] definite, narrow scope, speaker knowledge, IIA [+definite, +specific] definite, no scope interaction, speaker knowledge, IIB [+definite, -specific] definite,  no scope interactions, no speaker knowledge, IIIA [-definite, +specific] indefinite, wide scope, speaker knowledge, IVA [-definite, +specific] indefinite, no scope interactions, speaker knowledge, IVB [-definite, -specific] indefinite, no scope interactions, no speaker knowledge, VA simple definite [+definite, +specific], dan VB simple indefinite [-definite, -specific].

2)      Produksi tertulis, dalam bentuk mengarang terbatas, subjek penelitian diminta menjawab secara tertulis 5 pertanyaan tertulis dalam bahasa Inggris. Subjek diminta menggunakan 3 sampai 5 kalimat dalam jawabannya. Lalu penggunaan artikel dalam masing-masing karangan singkat itu ditabulasikan untuk melihat keberagaman penggunaan artikel.

3)      Penerjemahan, dipilih sebanyak 10 konteks dari 40 konteks yang digunakan pada teknik elitasi, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Setelah kalimat disusun secara acak, subjek diminta menerjemahkan bagian dari kalimat tertentu ke dalam bahasa Inggris. Subjek diberikan tugas ini setelah tugas elitasi selesai dikumpulkan. Sama dengan teknik sebelumnya, penggunaan artikel dalam masing-masing karangan singkat itu ditabulasi untuk melihat keberagaman penggunaan artikel.

1.5.5 Analisis Data

Analisis data menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Analisis kualitatif dengan menggunakan analisis deskriptif dan kategoris. Selanjutnya, hasil analisis dimaknai secara teoretis.

Data yang terkumpul melalui ketiga bentuk tugas di atas dianalisis berdasarkan kemampuan subjek menggunakan artikel bahasa Inggris dalam kategori: (1) [+takrif, +khas] ([+definite, +specific]); (2) [+takrif, -khas] ([+definite, -specific]); (3) [-takrif, +khas] ([-definite, +specific]); dan (4) [-takrif, -khas] ([-definite, -specific]).

Hasil analisis menggambarkan pola penggunaan artikel yang disusun berdasarkan pola ketakrifan, kekhasan, dan fluktuasi penggunaan artikel. Pola ini ditentukan oleh frekuensi ketepatan penggunaan artikel dalam masing-masing konteks yang diberikan. Hasil frekuensi yang sama juga akan digunakan untuk menyusun tingkat keberagaman ketakrifan dan kekhasan dalam penggunaan artikel bahasa Inggris tersebut.

1.5.6 Penyajian Hasil Analisis Data

Hasil analisis disajikan secara formal dan informal. Secara formal disajikan dalam bentuk tanda dan lambang-lambang, sedangkan secara informal menggunakan kata-kata biasa untuk menyampaikan hasil analisis. Berdasarkan temuan dan pembahasan, jawaban dari permasalahan penelitian adalah sebagai berikut.

1)   Ketakrifan atau ciri (+takrif) berperan dalam pemerolehan artikel bahasa Inggris oleh pelajar Indonesia sehingga ditemukan keberagaman dalam penggunaan a dan the. Artikel a digunakan dalam konteks yang seharusnya memerlukan artikel the, begitu juga sebaliknya artikel the digunakan dalam konteks artikel a.

2)   Kekhasan (specifity) atau ciri [+khas] juga memberikan peran penting dalam pemerolehan artikel bahasa Inggris oleh pelajar Indonesia. Ciri [+khas] cenderung disalahtafsirkan sebagai ciri takrif sehingga dalam konteks artikel taktakrif a dengan ciri [+khas] cenderung digunakan artikel takrif the.

3)   Pelajar cenderung menyandikan ciri [+takrif] dengan ciri [+takrif] dan [-takrif] dalam penggunaan artikel bahasa Inggris. Pelajar juga cenderung menyandikan ciri [+khas] dengan ciri [+takrif] dalam pemerolehan artikel bahasa Inggris ini.

  1. 2. Evaluasi

Pada bagian ini penulis akan mencoba mengevaluasi metode dan teknik yang digunakan Bahren Umar Siregar dan Yasin Nasanius dalam tulisan mereka yang berjudul “Keberagaman Ketakrifan dan Kekhasan dalam Penggunaan Artikel Bahasa Inggris a dan the oleh Mahasiswa Indonesia”

2.1 Strategi Penelitian

Lincoln & Denzin (2009) menjelaskan dalam Handbook of Qualitative Research bahwa strategi penelitian mencakup kepakaran, asumsi-asumsi, dan tindakan-tindakan yang digunakan seorang peneliti sebagai bricoleur ketika bergerak dari paradigma dan desain penelitian menuju tahap pengumpulan data empiris di lapangan. Tidak semua studi kasus bersifat kualitatif, meskipun kebanyakan memang bersifat kualitatif. Dengan memfokuskan kajian pada paradigma-paradigma naturalistik, holistik, dan kultural, studi-kasus bukanlah sebuah pilihan metodologis, namun sebagai sebuah pilihan objek yang hendak diteliti, semisal anak-anak atau ruangan kelas. Sementara itu, Sukardi (2005:165) menyebutkan bahwa studi kasus adalah bagian metodologi ilmiah yang mempunyai tujuan untuk menghadirkan dan memaparkan suatu kasus secara mendalam.

Menurut penulis, strategi penelitian kedua peneliti tersebut (baca: studi kasus) memang sudah tepat. Bahren Umar Siregar dan Yasin Nasanius melakukan penelitian kasus pada mahasiswa Jurusan Bahasa/Sastra Inggris atau Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris tingkat akhir sebanyak 68 orang yang berasal dari FKIP Unika Atma Jaya, STBA LIA, dan Fakultas Sastra Universitas Nasional, Jakarta. Permasalahan yang dikaji oleh kedua peneliti tersebut adalah peran ciri [+takrif], peran ciri [+khas], dan penyandian masing-masing ciri [+takrif] dan ciri [+khas] dalam pemerolehan artikel bahasa Inggris oleh mahasiswa Indonesia.

2.2 Metode dan Teknik Penelitian

Kata metode berasal dari kata Yunani methodos. Kata methodos merupakan gabungan dari kata depan meta yang artinya ‘menuju, melalui, mengikuti, sesudah’ dan kata benda hodos yang artinya ‘jalan, perjalanan, cara, arah’ (Bakker dalam Kesuma, 2007:1). Metode (method) merupakan cara mendekati, mengamati, menganalisis, dan menjelaskan suatu fenomen (Kridalaksana, 2008: 153). Metode  adalah cara yang harus dilaksanakan, sedangkan teknik adalah cara melaksanakan metode (1993:9).

Dalam karyanya, Bahren Umar Siregar dan Yasin Nasanius menggunakan metode deskriptif analisis, dengan penjelasan sebagai berikut.

2.2.1 Penyediaan Data

Dalam penyediaan data, Bahrein Umar Siregar dan Yasin Nasanius menggunakan teknik elitasi, produksi tertulis, dan penerjemahan seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya (lihat 1.5.4). Mahasiswa yang menjadi subjek penelitian diberi tugas dengan teknik-teknik tersebut untuk memperoleh data. Agaknya teknik-teknik tersebut bisa dihubungkan dengan istilah teknik sadap dengan teknik lanjutan simak bebas libat cakap. Sudaryanto menjelaskan bahwa dalam teknik simak bebas libat cakap, peneliti tidak  terlibat  dalam pembentukan dan pemunculan calon data kecuali sebagai pemerhati-pemerhati terhadap calon data yang terbentuk dan muncul dari peristiwa kebahasaan di luar dirinya (1993:134).

2.2.2 Analisis Data

Analisis data merupakan upaya sang peneliti menangani langsung masalah yang terkandung dalam data (Sudaryanto, 1993:6). Bahrein Umar Siregar dan Yasin Nasanius menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Analisis kualitatif dengan menggunakan analisis deskriptif dan kategoris.

Dalam karyanya, Bahren Umar Siregar dan Yasin Nasanius menganalisis data yang terkumpul melalui ketiga bentuk tugas berdasarkan kategori-kategori yang telah disebutkan sebelumnya (lihat 1.5.5). Menurut penulis, kategori-kategori yang dilakukan terhadap data yang ada tersebut bisa disamakan dengan metode padan, yakni metode analisis data yang alat penentunya berada di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan atau diteliti (ibid: 13). Alat penentu metode padan yang digunakan adalah referen bahasa, yakni ketakrifan dan kekhasan dalam penggunaan artikel bahasa Inggris a dan the.

2.2.3 Penyajian Analisis Data

Hasil analisis disajikan secara formal dan informal. Secara formal disajikan dalam bentuk tanda dan lambang-lambang, sedangkan secara informal menggunakan kata-kata biasa untuk menyampaikan hasil analisis. Koreksi penulis, penyajian analisis data Bahrein Umar Siregar dan Yasin Nasanius yang berbentuk lambang-lambang (terutama dalam tabel) hendaknya diberikan keterangan agar jelas maksudnya. Misalnya, penulis temukan lambang NA dalam tabel yang belum penulis pahami artinya.

  1. 3. Simpulan dan Rekomendasi

Berdasarkan pembahasan tentang metode dan teknik dalam tulisan karya Bahrein Umar Siregar dan Yasin Nasanius yang berjudul “Keberagaman Ketakrifan dan Kekhasan dalam Penggunaan Artikel Bahasa Inggris a dan the oleh Mahasiswa Indonesia”, berikut ini dapat disampaikan simpulan dan rekomendasi sebagai berikut. Pertama, strategi penelitian yang dipilih (baca: studi kasus) sudah tepat karena kedua peneliti memang bertujuan untuk memaparkan suatu kasus kebahasaan secara mendalam.

Kedua, metode dan teknik penelitian yang digunakan sudah mampu memerikan permasalahan penelitian. Hanya saja istilah-istilah yang digunakan oleh kedua peneliti berbeda dengan metode penelitian bahasa pada umumnya. Kemudian, penyebutan lambang-lambang dalam analisis (kuantitatif) hendaknya juga dijelaskan keterangan agar jelas maksudnya.

Ketiga, pemerian permasalahan penelitian baru terbatas pada memaparkan apa dan bagaimana, sehingga perlu dilakukan kajian lanjutan agar aspek mengapa juga bisa terjawab. Hal ini penting dilakukan guna merancang strategi pembelajaran artikel bahasa Inggris yang lebih efektif.

Daftar Pustaka

Kesuma. 2007. Pengantar (Metode) Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Penerbit Carasvatibooks.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik (Edisi Keempat). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Lincoln, Yvonna S., & Norman K. Denzin. 2009. Handbook of Qualitative Research (Penerjemah Dariyatno, Badrus Samsul Fata, Abi, John Rinaldi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Siregar, Bahren Umar dan Yassir Nassanius. 2009. “Keberagaman Ketakrifan dan Kekhasan dalam Penggunaan Artikel Bahasa Inggris a dan the oleh Mahasiswa Indonesia” dalam Peneroka Hakikat Bahasa. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Darma.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sukardi. 2006. Penelitian Kualitatif-Naturalistik dalam Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit Usaha Keluarga.

Leave a Reply